ALASAN KETIDAKAKTIFAN UMAT DALAM LATIHAN KOOR GEREJASTUDI PADA LINGKUNGAN SOKORIA II, DESA SOKORIA, KECAMATAN NDONA TIMUR, KABUPATEN ENDE

Authors

  • Paskalis X. Hurint Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula, Ende, Indonesia Author
  • Petronela Dhae Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula, Ende, Indonesia Author

DOI:

https://doi.org/10.71241/ym7e0065

Keywords:

Musik liturgi, Gereja Katolik, partisipasi komunitas, pembangunan sosial, formasi spiritual

Abstract

Musik dalam Gereja Katolik bukanlah sekadar hiasan estetik, melainkan denyut yang menghidupkan liturgi sebagai perayaan iman. Dalam ruang sakral tersebut, latihan koor menjadi jalan persiapan rohani, tempat umat menyelaraskan suara lahiriah dan batiniah demi harmoni pujian kepada Sang Ilahi. Namun, realitas pastoral menunjukkan paradoks yang menyedihkan: kehadiran umat dalam latihan koor kian menipis, bahkan di tengah keberadaan mereka yang berbakat dalam bernyanyi. Penelitian ini bertolak dari kegelisahan tersebut, dengan tujuan mengungkap dan menganalisis alasan di balik ketidakaktifan umat dalam latihan koor, melalui pendekatan pembangunan sosial. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan dokumentasi kegiatan liturgis. Hasil penelitian menemukan tiga dimensi utama yang menjadi akar persoalan. Pertama, faktor personal, yakni rendahnya motivasi dan tanggung jawab individu terhadap pelayanan musik liturgis. Kedua, faktor sosial, yang mencerminkan merosotnya solidaritas komunal dan hilangnya kesadaran kolektif umat untuk bersama-sama menyukseskan latihan koor. Ketiga, faktor struktural, berupa pasifnya dukungan keluarga sebagai agen pembentuk nilai partisipatif dalam kehidupan Gereja. Temuan ini menyiratkan bahwa ketidakaktifan umat bukan hanya perihal teknis atau kebiasaan, melainkan cerminan dari melemahnya struktur spiritual dan sosial di dalam tubuh komunitas Gereja. Oleh karena itu, dibutuhkan pembaruan strategi pastoral: mulai dari pengembangan sistem pembinaan koor berbasis partisipasi dan penghargaan sosial, penguatan peran pengurus sebagai agen pembangunan internal, hingga penataan ulang waktu, struktur, dan tujuan latihan koor agar menjadi ruang pemberdayaan umat yang hidup, inklusif, dan transformatif.

References

Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. In J. G. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education (pp. 241–258). New York: Greenwood Press.

Chambers, R. (1997). Whose reality counts? Putting the first last. London: Intermediate Technology Publications.

KWI. (2013). Pedoman Musik Liturgi Katolik Indonesia. Komisi Liturgi KWI.

Midgley, J. (1995). Social development: The developmental perspective in social welfare. London: Sage Publications.

Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. New York: Simon & Schuster.

Bauman, Z. (2001). Community: Seeking safety in an insecure world. Polity Press.

Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development: Experiments by nature and design. Harvard University Press.

Durkheim, E. (1915). The elementary forms of the religious life. London: George Allen & Unwin.

Maslow, A. H. (1943). A Theory of Human Motivation. Psychological Review, 50(4), 370–396. https://doi.org/10.1037/h0054346 (kutipan hlm. 375)

Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Simon & Schuster.

Heri, M. (2018). Partisipasi Remaja dalam Kegiatan Gereja dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, 5(2), 45–60. https://doi.org/10.5281/zenodo.2537490

Downloads

Published

2025-10-17