Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M)

Jurnal Suara Pemberdayaan adalah jurnal kontemplasi sosial yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Santa Ursula Ende. Refleksi mendalam yang disajikan dalam jurnal ini sejalan dengan fokus unggulan penelitian dan publikasi STPM St. Ursula yang menggarap isu utamanya yakni pemberdayaan dan penguatan kapasitas masyarakat (capacity building) dan penguatan kelembagaan pemerintahan daerah/desa berbasis potensi dan kearifan lokal. Kami menerima naskah hasil penelitian, kajian dan gagasan ilmiah baik dari masyarakat ilmiah maupun praktisi yang menawarkan berbagia model dan pendekatan pembangunan dan pemberdayaan.

Tujuan hadirnya jurnal ini adalah menyebarluaskan hasil penelitian, gagasan ilmiah para peneliti dan praktisi tentang berbagai masalah pembangunan social dan pemerintahan meliputi : Kemiskinan dan Pemberdayaan, Capacity Building dan Caracter Building, Konflik dan Inklusi Sosial, Kedaulatan Pangan, Kewirausahaan Sosial, Pembangunan Berkelanjutan & Kebijakan Sosial, Modal Sosial dan Kebijakan Sosial, Kapitalisme dan Kemiskinan, Tata Kelola Kearifan Lokal, Reformasi Birokrasi, Dinamika Politik Lokal dan Otonomi Daerah, Inovasi Pelayanan Publik dan Tata Kelola Pemerintahan Daerah.

 

Current Issue

Vol. 6 No. 2 (2017): Jurnal Suara Pemberdayaan
					View Vol. 6 No. 2 (2017): Jurnal Suara Pemberdayaan

Salam pemberdayaan !!!

Pada edisi 2017 ini redaksi menurunkan sejumlah tulisan yang diekstrak dari hasil penelitian mahasiswa. Awalnya, hasil tulisan mahasiswa dalam bentuk skripsi dipilih sesuai dengan masalah-masalah yang relevan, dan dielaborasi lebih lanjut oleh dosen pembimbing guna menghasilkan tulisan yang baik. Tema-tema yang dipilih sangatlah beragam, namun masih dalam konteks bidang kajian pembangunan sosial, pemberdayaan masyarakatat dan tata kelola pemerintahan. Isu-isu yang diangkat dalam edisi ini berkaitan dengan masalah konflik sosial, pro kontra pembangunan infrastruktur, budaya dan adat istiadat, tata kelola keuangan desa, pertanian, dan pariwisata.

Pada bagian pertama, Ignasius Jamek dan Ngea Andreas menguak fakta empirik soal solidaritas sosial masyarakat Woloare dalam menangani konflik sosial. Bentuk solidaritas sosial seperti kesetiakawanan sebagai suatu tindakan sosial dalam menangani konflik secara massal. Pada bagian kedua, isu resistensi masyarakat Labo Lewa terhadap pembangunan Waduk Lambo, diulas oleh Nobertus Ngaji dan Sr. Mariana Ita Botmomolin. Rencana pembanunan infrastruktur waduk yang sejatinya bermanfaat bagi masyarakat menuai penolakan dari berbagai kelompok sosial yang disebabkan oleh perencanaan dan pendekatan pembangunan yang tidak sesuai dengan kehendak masyarakat lokal. Bagian ketiga, Yoseph Nikolaus Nuwa dan Elias Cima menulis tentang perspektif keadilan dalam pembagian daging hasil buruan pada tradisi berburu adat (Nday). Tulisan ini menjelaskan bahwa sejatinya keadilan melekat secara inheren dalam tradisi berburu adat (Nday).

Bagian keempat, Maria Odilia Bota Tukan dan Petrus Lako menulis tentang upaya kelompok Dhawe Ghulu dalam mempertahankan keberlanjutan kelompok. Ditemukan bahwa nilai-nilai lokal seperti gotongroyong, sikap saling mendukung, tanggungjawab, rela membantu, dan solidaritas merupakan tiang penyangga keberlanjutan kelompok Dhawe Ghulu yang terus eksis hingga saat ini. Bagian kelima, Agustinus Lando dan Yulita Eme mengulas soal kendala pengelolaan Dana Desa Tahun Anggaran 2015 di Desa Nginamanu Barat, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada. Beberapa faktor yang mempengaruhi masalah pengelolaan Dana Desa adalah rendahnya sumber daya manusia, sistem pengawasan yang lemah dan tidak tegas, rendahnya partisipasi masyarakat, rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat.

Bagian keenam, Antonia Walu dan Paskalis X. Hurint menulis tentang tanggapan petani sawah Rateule terhadap pola tanam  legowo. Penerapa pola tanam legowo melahirkan sikap pro dan kontra petani sawah di Rateule. Sikap pro konta para petani sawah cenderung melahirkan konflik kepentingan. Pada bagian akhir, Kanisius Gare dan Johanis Nislaka menulis tentang peran pemerintah desa dalam mengelola Danau Tiwu Sora sebagai destinasi pariwisata. Ditemukan bahwa pemerintah Desa Tiwu Sora belum berperan secara optimal dalam mengembangkan wisata danau Tiwu Sora. Beberapa faktor yang mempengaruhinya adalah, pertama; sumber daya manusia (SDM) terutama yang berkiatan dengan pengetahuan dan ketrampilan dalam mengelola industri pariwisata. Kedua, dokumen perencanaan yang belum memuat Danau Tiwu Sora sebagai potensi yang dapat meningkatkan pendapatan asli desa dan masyarakat. Ketiga, kurangnya dukungan Pemerintah Kecamatan Lepembusu Kelisoke dalam bentuk pendampingan Desa Tiwu Sora dalam proses perencanaan pembangunan desa.

Redaksi berharap melalui beragam tulisan yang diturunkan dapat berkontribusi bagi pembaca untuk memperkaya khazanah pengetahuan dan informasi yang bermanfaat bagi pengembangan agenda pemberdayaan masyarakat lokal dan perubahan tata kelola pemerintahan.

Tim Redaksi

 

Published: 02-10-2017
View All Issues